Sejarah Haji: Perjalanan Suci dari Masa ke Masa

Bicara tentang rukun Islam, ibadah haji tak ubahnya mahkota kelima, sebuah kewajiban suci bagi mereka yang mampu menunaikannya. Jauh melampaui sekadar perjalanan fisik, haji adalah ziarah spiritual yang mendalam, mengajak setiap jemaah menyusuri jejak-jejak sejarah kenabian dan merajut persatuan umat.

Menyelami sejarah haji ibarat membuka lembaran demi lembaran hikmah di balik setiap ritualnya. Dari zaman Nabi Ibrahim AS yang penuh pengorbanan hingga era modern yang serba canggih, perjalanan haji memang telah mengalami berbagai perubahan, namun esensi dan tujuannya tetap teguh tak tergoyahkan: mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengukuhkan pilar keimanan.

Dalam tulisan ini, kita akan bersama-sama menelusuri jejak langkah sejarah haji, menguraikan setiap babak penting, dan menyoroti bagaimana ibadah mulia ini terus relevan, menjadi inspirasi bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia. Mari kita selami lebih dalam warisan spiritual yang tak ternilai harganya ini.

Sejarah Haji: Fondasi Ibrahim AS yang Abadi

Pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim

Tak bisa dipungkiri, fondasi ibadah haji berakar kuat pada kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Atas perintah langsung dari Allah SWT, Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail bahu-membahu membangun kembali Ka’bah, rumah ibadah pertama di muka bumi yang berdiri megah di Mekkah. Pembangunan inilah yang menjadi titik sentral ibadah haji yang kita kenal sekarang, menegaskan status Ka’bah sebagai kiblat dan pusat spiritual bagi seluruh umat Islam.

Proses pembangunan Ka’bah bukanlah pekerjaan biasa; ia adalah manifestasi ketaatan mutlak kepada perintah Ilahi. Setiap batu yang diletakkan menyimpan makna spiritual yang mendalam, membentuk struktur sakral yang akan menjadi saksi bisu jutaan doa dan sujud dari generasi ke generasi. Inilah awal mula Ka’bah menjadi magnet spiritual yang tak pernah padam.

Kisah Siti Hajar dan Sumur Zamzam

Salah satu ritual penting dalam haji, yaitu sa’i (berlari kecil antara Safa dan Marwah), berakar pada kisah heroik Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Ketika ditinggalkan di lembah Mekkah yang tandus bersama putranya, Ismail yang masih bayi, Hajar berlari bolak-balik antara dua bukit itu, Safa dan Marwah, mencari air demi sang buah hati yang kehausan. Pada puncaknya, Allah SWT menurunkan mukjizat berupa sumur Zamzam yang tak pernah kering hingga kini, seolah tak kenal lelah.

Kisah ini adalah potret nyata tentang kesabaran, ketabahan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan kepada pertolongan Allah. Setiap jemaah haji yang melakukan sa’i secara tidak langsung menghayati perjuangan Siti Hajar, mengambil pelajaran berharga tentang tawakal dan usaha maksimal dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Sungguh, sebuah kisah yang tak lekang oleh waktu.

Perintah Haji Pertama

Begitu Ka’bah berdiri kokoh, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyerukan kepada seluruh manusia agar datang menunaikan haji. Seruan yang menggema ini, yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 27, adalah titik tolak resmi ibadah haji sebagai sebuah kewajiban yang harus ditunaikan.

Melalui seruan Nabi Ibrahim, perjalanan haji pun dimulai. Meskipun pada masa itu transportasi sangat terbatas dan perjalanan sangat sulit, perintah ini menandai dimulainya tradisi ziarah ke Baitullah yang akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Ini adalah langkah awal dari sebuah perjalanan spiritual yang agung, membuka lembaran baru dalam sejarah peradaban manusia.

Perkembangan Haji di Era Pra-Islam

Perkembangan Haji Di Era Pra-Islam

Tradisi Haji Kaum Jahiliyah

Sebelum kedatangan Islam, ibadah haji memang tetap dilaksanakan oleh masyarakat Arab. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi mulia ini telah mengalami banyak penyimpangan. Ka’bah yang seharusnya menjadi pusat tauhid, justru dipenuhi dengan berbagai berhala. Setiap suku memiliki berhala masing-masing yang diletakkan di dalam dan sekitar Ka’bah, menjadikannya pusat penyembahan berhala, jauh dari esensi aslinya.

Ritual haji pada masa jahiliyah juga diwarnai dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Nabi Ibrahim, seperti tawaf dalam keadaan telanjang bagi sebagian orang, serta pengorbanan hewan yang darahnya dioleskan ke Ka’bah. Ini menunjukkan betapa jauh panggang dari api penyimpangan yang terjadi dari ajaran asli yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS.

Penyimpangan dari Ajaran Tauhid

Penyimpangan paling mendasar di era pra-Islam adalah pergeseran dari monoteisme murni (tauhid) menjadi politeisme (syirik). Kaum Quraisy dan suku-suku Arab lainnya menjadikan berhala sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, atau bahkan menyembah berhala-berhala itu sendiri. Konsep tauhid yang diajarkan Nabi Ibrahim terkikis dan tergerus oleh kepercayaan animisme dan paganisme yang merajalela.

Meskipun mereka masih mengenali Allah sebagai Tuhan tertinggi, praktik ibadah haji mereka telah tercampur aduk dengan ritual-ritual kesyirikan. Bisa dibilang, ini adalah periode kegelapan spiritual sebelum cahaya Islam datang untuk mengembalikan kemurnian ajaran dan menyucikan kembali Ka’bah.

Peran Suku Quraisy dalam Pengelolaan Ka’bah

Suku Quraisy, sebagai penjaga Ka’bah dan penguasa Mekkah, memiliki peran sentral dalam pengelolaan haji di era pra-Islam. Mereka mengatur kedatangan jemaah, menyediakan air (Zamzam) dan makanan, serta bertanggung jawab atas keamanan. Namun, bukan cuma kehormatan dan kekuasaan yang mereka dapatkan, mereka juga tak jarang memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi dan politik.

Dengan kekuasaan di tangan, mereka menetapkan aturan-aturan sendiri, termasuk memungut biaya dari jemaah dan terkadang membatasi akses bagi suku-suku tertentu. Peran Quraisy ini, meskipun penting dalam menjaga keberlangsungan haji, juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan parah dalam praktik ibadah tersebut.

Haji di Masa Nabi Muhammad SAW

Haji Di Masa Nabi Muhammad SAW

Baca Juga: Pengertian Haji: Makna, Syarat, Rukun, dan Tata Cara

Pemurnian Ibadah Haji oleh Nabi Muhammad

Kedatangan Nabi Muhammad SAW bak fajar menyingsing, membawa misi suci untuk mengembalikan ibadah haji ke bentuk aslinya, yaitu murni tauhid tanpa syirik sedikit pun. Setelah penaklukan Mekkah pada tahun 8 H (630 M), Nabi Muhammad membersihkan Ka’bah dari segala berhala yang telah mencemarinya selama berabad-abad. Ini adalah momen krusial yang mengukir sejarah dalam sejarah haji, di mana Ka’bah kembali menjadi rumah Allah yang suci.

Dengan teladan dan bimbingan beliau, Nabi Muhammad mengajarkan kembali tata cara haji yang benar sesuai syariat Islam, menghapus habis praktik-praktik jahiliyah yang sesat. Beliau menekankan bahwa haji adalah ibadah yang sepenuhnya didedikasikan kepada Allah SWT semata, tanpa perantara atau sekutu.

Haji Wada’: Khutbah Perpisahan yang Abadi

Titik kulminasi ajaran haji Nabi Muhammad SAW adalah pelaksanaan Haji Wada’ (Haji Perpisahan) pada tahun 10 H (632 M). Ini adalah satu-satunya haji yang dilakukan Nabi Muhammad setelah hijrah ke Madinah, dan menjadi model serta panduan tak tergantikan bagi seluruh umat Islam.

Dalam khutbahnya yang agung di Arafah, Nabi menyampaikan pesan-pesan universal tentang hak asasi manusia, persatuan umat, kesetaraan, dan pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Haji Wada’ bukan hanya demonstrasi tata cara haji, tetapi juga testamen ajaran Islam yang komprehensif, sebuah warisan tak ternilai yang menjadi pedoman bagi umat hingga akhir zaman.

Penetapan Rukun dan Syarat Haji

Melalui ajaran dan praktik Nabi Muhammad SAW, rukun dan syarat haji ditetapkan dengan jelas dan gamblang. Rukun haji meliputi ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sa’i, dan tahallul. Syarat wajib haji seperti beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan mampu (istita’ah) juga ditegaskan dengan lugas.

Penetapan ini tak ayal lagi memberikan panduan yang sistematis dan baku bagi umat Muslim untuk menunaikan ibadah haji. Dengan demikian, haji menjadi ibadah yang terstruktur dan memiliki landasan syariat yang kuat, sebuah kerangka kokoh yang memastikan konsistensi dalam pelaksanaannya sepanjang waktu.

Rukun dan Tata Cara Haji: Evolusi dan Konsistensi

Rukun Dan Tata Cara Haji: Evolusi Dan Konsistensi

Rukun Haji yang Tak Berubah

Meski roda zaman terus berputar dan sejarah haji menyaksikan banyak perubahan dalam konteks sosial dan politik, rukun-rukun haji yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW tetap tak berubah. Inilah pilar-pilar utama yang jika ditinggalkan akan membatalkan haji seseorang. Rukun tersebut adalah:

  1. Ihram: Niat tulus untuk memulai haji disertai dengan mengenakan pakaian ihram yang sederhana, melambangkan kesetaraan.
  2. Wukuf di Arafah: Berdiam diri di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, inilah puncak ibadah haji yang penuh penghayatan.
  3. Tawaf Ifadah: Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali setelah wukuf, sebagai bentuk ketaatan.
  4. Sa’i: Berlari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, mengenang perjuangan Siti Hajar.
  5. Tahallul: Mencukur sebagian atau seluruh rambut sebagai tanda berakhirnya ibadah haji, sebuah simbol kesucian.
  6. Tertib: Melaksanakan semua rukun secara berurutan dan teratur.

Konsistensi rukun ini adalah bukti nyata kemurnian dan keabadian ajaran Islam dalam ibadah haji, tak tergoyahkan oleh zaman.

Tata Cara Haji dari Ihram hingga Tahallul

Tata cara pelaksanaan haji adalah serangkaian ritual yang kompleks dan berurutan, dimulai dari niat ihram di miqat, hingga tahallul akhir. Setiap langkahnya bukan sekadar gerakan fisik, melainkan memiliki makna dan tujuan spiritualnya sendiri. Contohnya, setelah ihram, jemaah menuju Mekkah untuk tawaf qudum, kemudian bergerak ke Mina, Arafah, dan Muzdalifah.

Di Mina, jemaah melakukan lempar jumrah, dan di Arafah, mereka wukuf. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang intens, sebuah maraton keimanan yang menguji kesabaran, ketahanan fisik, dan keteguhan hati jemaah.

Hikmah di Balik Setiap Ritual

Setiap ritual dalam ibadah haji menyimpan hikmah dan pelajaran yang mendalam. Ihram, misalnya, melambangkan kesetaraan di hadapan Allah, tanpa memandang status sosial atau kekayaan. Wukuf di Arafah adalah simulasi padang Mahsyar, mengingatkan kita akan hari perhitungan di akhirat kelak.

Baca Juga: Macam-Macam Haji: Tamattu', Ifrad, Qiran | Panduan Lengkap

Tawaf dan sa’i mengajarkan tentang ketekunan dan tawakal yang tak berkesudahan. Sementara itu, melempar jumrah melambangkan perlawanan terhadap godaan setan dan hawa nafsu. Seluruh rangkaian ibadah haji adalah sebuah kurikulum spiritual yang dirancang untuk membentuk pribadi Muslim yang lebih taat, sabar, dan bertakwa, sebuah sekolah kehidupan yang paripurna.

Makna Spiritual dan Simbolisme Haji

Simbolisme Tawaf dan Sa’i

Tawaf, gerakan mengelilingi Ka’bah tujuh kali berlawanan arah jarum jam, melambangkan ketaatan dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT. Ka’bah sebagai titik pusat, menjadi simbol keesaan Allah, dan gerakan tawaf merepresentasikan kehidupan seorang Muslim yang senantiasa berputar mengelilingi poros keimanan, tak pernah lepas dari-Nya.

Sa’i, perjalanan antara Safa dan Marwah, adalah pengingat akan perjuangan Siti Hajar yang tak kenal menyerah. Ia mengajarkan bahwa dalam mencari rezeki dan memohon pertolongan Allah, seorang hamba harus berusaha sekuat tenaga dan sekuat daya, namun tetap dengan penuh tawakal kepada kehendak-Nya yang Maha Kuasa. Mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa.

Wukuf di Arafah: Puncak Haji

Wukuf di Arafah adalah ritual paling penting dalam haji, tak salah jika Nabi bersabda, “Haji adalah Arafah.” Pada hari itu, jutaan jemaah berkumpul di padang Arafah, mengenakan pakaian ihram yang seragam, tanpa perbedaan status, suku, atau bangsa. Mereka berdoa, berzikir, dan memohon ampunan kepada Allah, sebuah lautan manusia dalam balutan ihram.

Momen ini adalah puncak dari penghayatan spiritual, di mana setiap jiwa merasa begitu dekat dengan Tuhannya, mengakui dosa-dosa, dan berharap ampunan. Wukuf di Arafah adalah simulasi hari kiamat, sebuah miniatur hari perhitungan, di mana semua manusia berkumpul di hadapan Allah, menyadari kehinaan diri dan keagungan Sang Pencipta.

Melempar Jumrah dan Pengorbanan

Ritual melempar jumrah di Mina bukan sekadar melempar batu, melainkan melambangkan penolakan terhadap godaan setan. Ini adalah napak tilas Nabi Ibrahim ketika digoda oleh setan untuk tidak menaati perintah Allah menyembelih putranya, Ismail. Dengan melempar batu, jemaah secara simbolis menyatakan perang terhadap hawa nafsu dan bisikan jahat dalam diri, mengusir jauh-jauh godaan.

Selain itu, ibadah haji juga melibatkan penyembelihan hewan kurban. Ini adalah simbol pengorbanan dan ketaatan kepada Allah, mengingatkan kita pada kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya. Setiap ritual mengandung pesan yang kuat untuk membentuk karakter Muslim yang bertakwa, sebuah cetak biru kehidupan yang luhur.

Perjalanan Haji Sepanjang Abad Pertengahan

Rute Perjalanan Haji Tradisional

Pada abad pertengahan, perjalanan haji adalah sebuah ekspedisi yang sangat menantang dan penuh risiko. Jemaah datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru dunia Islam, membentuk kafilah-kafilah besar yang menempuh rute darat dan laut. Rute-rute utama meliputi jalur dari Mesir, Syam (Suriah), Irak, Yaman, dan dari wilayah Afrika Utara serta Asia.

Kafilah-kafilah ini seringkali membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun penuh untuk pergi dan pulang. Perjalanan ini bukan hanya menguji fisik, tetapi juga uji ketahanan mental dan spiritual yang luar biasa, sebuah ujian maha berat yang harus dilalui.

Tantangan dan Risiko Perjalanan

Melakukan haji di abad pertengahan penuh dengan bahaya yang mengintai di setiap sudut. Perampok gurun, wabah penyakit, kelaparan, dan kondisi alam yang ekstrem adalah ancaman yang selalu membayangi. Banyak jemaah yang meninggal dunia dalam perjalanan, namun hal ini tak menyurutkan niat dan semangat mereka untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Risiko ini membuat ibadah haji menjadi sebuah pencapaian yang sangat dihormati. Mereka yang berhasil kembali dari haji seringkali disebut dengan gelar “Haji” sebagai tanda penghormatan atas keberanian dan ketekunan mereka. Siapa yang pulang, dialah yang layak menyandang gelar mulia itu.

Baca Juga: Rukun Haji dan Wajib Haji: Panduan Lengkap Ibadah Haji

Peran Khalifah dalam Pengamanan Haji

Sepanjang sejarah Islam, tak bisa dipungkiri berbagai kekhalifahan dan dinasti (seperti Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyyah, dan Utsmaniyah) memainkan peran penting dalam mengamankan rute haji dan menyediakan fasilitas bagi jemaah. Mereka membangun sumur, pos peristirahatan, dan benteng di sepanjang jalan, demi kelancaran perjalanan.

Para khalifah juga seringkali mengirimkan rombongan haji resmi yang besar, lengkap dengan pengawal dan perbekalan, untuk memastikan keamanan jemaah. Peran negara dalam memfasilitasi dan mengamankan haji adalah bagian integral dari sejarah haji yang panjang, sebuah wujud tanggung jawab besar.

Haji di Era Modern: Tantangan dan Fasilitas

Transformasi Transportasi dan Akomodasi

Zaman telah berganti, dan era modern telah membawa revolusi besar dalam pelaksanaan haji. Transportasi udara kini telah menggantikan kafilah unta, memungkinkan jutaan jemaah dari seluruh dunia untuk mencapai Mekkah dalam hitungan jam. Fasilitas akomodasi juga telah berkembang pesat, dari tenda sederhana menjadi hotel-hotel mewah dengan segala kenyamanan, bak bumi dan langit perbedaannya.

Transformasi ini memang membuat ibadah haji jauh lebih mudah diakses dan nyaman, namun juga membawa tantangan baru dalam pengelolaan jumlah jemaah yang sangat besar. Mengelola jutaan kepala tentu bukan perkara sepele.

Teknologi dalam Pengelolaan Haji

Tak mau ketinggalan, Pemerintah Arab Saudi telah berinvestasi besar dalam teknologi untuk mengelola jutaan jemaah. Berbagai sistem elektronik untuk visa, pelacakan jemaah, aplikasi panduan haji, dan infrastruktur komunikasi modern adalah bagian dari upaya ini. Teknologi membantu dalam manajemen keramaian, keamanan, dan pelayanan kesehatan, demi kelancaran perjalanan haji.

Contoh konkret adalah penggunaan kamera pengawas canggih, sistem identifikasi biometrik, dan aplikasi mobile yang memberikan informasi real-time kepada jemaah. Ini semua bertujuan untuk membuat perjalanan haji lebih aman dan efisien. Segala upaya dikerahkan demi kenyamanan dan keamanan jemaah.

Tantangan dan Inovasi Masa Kini

Di balik gemerlap kemajuan teknologi, haji di era modern tetap menghadapi tantangan besar, seperti manajemen keramaian yang ekstrem, penyebaran penyakit, dan masalah lingkungan. Tantangan tak pernah usai. Pemerintah Saudi terus berinovasi untuk mengatasi rintangan-rintangan ini.

Inovasi meliputi perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pembangunan jalur kereta api berkecepatan tinggi untuk menghubungkan lokasi-lokasi haji, serta sistem pendingin udara di area terbuka. Fokus utama adalah memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah tanpa mengurangi esensi spiritual ibadah. Intinya satu: kenyamanan dan kekhusyukan.

Signifikansi Haji Bagi Umat Muslim Dunia

Haji sebagai Perekat Umat Muslim

Bicara tentang haji, kita bicara tentang persatuan. Haji adalah manifestasi paling nyata dari persatuan umat Muslim (ummah) di seluruh dunia. Jutaan jemaah dari berbagai negara, ras, bahasa, dan latar belakang berkumpul di satu tempat, mengenakan pakaian yang sama, dan melakukan ritual yang sama. Ini adalah simbol kesetaraan dan persaudaraan yang tak tertandingi, sebuah potret nyata.

Di Arafah, di depan Ka’bah, semua perbedaan sirna. Tak ada lagi sekat. Yang tersisa hanyalah identitas sebagai hamba Allah. Pengalaman kolektif ini memperkuat ikatan antar Muslim, menumbuhkan benih-benih solidaritas dan saling pengertian yang mendalam.

Dampak Sosial dan Ekonomi Haji

Tak hanya menyentuh aspek spiritual, haji juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Bagi jemaah, haji seringkali menjadi titik balik dalam hidup, memotivasi perubahan positif dan peningkatan ketaatan. Mereka yang kembali dari haji seringkali menjadi agen perubahan di komunitas mereka, menebarkan kebaikan.

Secara ekonomi, bagi Arab Saudi, haji adalah mesin ekonomi yang besar. Ia menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata, perhotelan, dan jasa. Miliaran Dolar berputar selama musim haji, memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian lokal dan nasional.

Baca Juga: Apa Itu Umroh: Panduan Lengkap Tata Cara & Keutamaannya

Transformasi Diri Setelah Berhaji

Bukan rahasia lagi, banyak jemaah haji melaporkan adanya transformasi spiritual yang mendalam setelah menunaikan ibadah haji. Pengalaman mendekatkan diri kepada Allah, menyaksikan jutaan umat Muslim bersatu, dan menghayati setiap ritual, seringkali mengubah pandangan hidup seseorang, sebuah metamorfosis jiwa.

Haji diharapkan dapat menjadikan seseorang lebih sabar, tawakal, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Gelar “Haji” atau “Hajjah” bukan hanya sekadar penambahan nama, melainkan harapan agar seseorang dapat mempertahankan kemuliaan akhlak dan ketaatan yang telah dicapai selama di Tanah Suci, sebuah amanah besar.

Kesimpulan

Benang merah sejarah haji adalah sebuah narasi panjang tentang ketaatan, pengorbanan, dan persatuan yang berakar kuat pada ajaran Nabi Ibrahim AS dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dari pembangunan Ka’bah yang suci hingga evolusi tata cara ibadah dan fasilitas modern, haji tetap menjadi pilar spiritual yang tak tergoyahkan bagi umat Islam, sebuah perjalanan panjang yang penuh liku.

Setiap ritual haji, mulai dari ihram, tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, hingga melempar jumrah, mengandung makna dan hikmah yang mendalam. Setiap detiknya adalah pelajaran, mengajarkan nilai-nilai kesetaraan, kesabaran, tawakal, dan penolakan terhadap godaan. Haji bukan sekadar menjejakkan kaki di Mekkah, melainkan sebuah perjalanan batin untuk membersihkan jiwa dan memperkuat ikatan dengan Sang Pencipta.

Di era modern, meskipun banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, esensi spiritual haji tetap abadi. Ia terus memancarkan daya tarik, menjadi magnet yang menarik jutaan umat Muslim untuk berkumpul, bersatu, dan merasakan pengalaman transformatif yang tak terlupakan. Memahami sejarah haji adalah kunci untuk merajut jantung keimanan dan persaudaraan Islam.

FAQ

Haji adalah ziarah ke kota suci Mekkah di Arab Saudi. Ia merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Ibadah ini melibatkan serangkaian ritual yang dilakukan di sekitar Ka’bah dan tempat-tempat suci lainnya pada bulan Dzulhijjah.

Secara historis, fondasi ibadah haji diletakkan oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS, yang membangun kembali Ka’bah dan diperintahkan untuk menyerukan manusia menunaikan haji. Namun, tata cara haji disempurnakan dan diajarkan secara rinci oleh Nabi Muhammad SAW, menjadikannya panduan baku bagi umat.

Wukuf di Arafah adalah ritual paling penting dalam haji karena pada hari itu, jutaan jemaah berkumpul di Padang Arafah untuk berdoa, berzikir, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda, “Haji adalah Arafah,” yang menunjukkan esensi dan pentingnya momen ini sebagai puncak penghayatan spiritual dan pengampunan dosa.

Rukun haji yang jika ditinggalkan akan membatalkan haji seseorang meliputi: Ihram (niat disertai pakaian khusus), Wukuf di Arafah, Tawaf Ifadah (tawaf utama), Sa’i (lari kecil antara Safa dan Marwah), Tahallul (mencukur rambut), dan Tertib (melaksanakan secara berurutan sesuai syariat).

Haji di era modern jauh berbeda dalam hal fasilitas dan aksesibilitas. Transportasi udara telah menggantikan perjalanan darat berbulan-bulan, akomodasi jauh lebih nyaman, dan teknologi canggih digunakan untuk manajemen keramaian serta keamanan jemaah. Meskipun demikian, esensi dan rukun ibadah haji tetap sama seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.